Memahami Fenomena "Kesurupan"

Belakangan ini fenomena kesurupan massal seolah menjadi peristiwa yang lazim terjadi di masyarakat Indonesia. Dalam satu bulan, peristiwa yang sama terjadi beberapa kali, yaitu di Yogyakarta (6/3), Surabaya (20/3), Banjarmasin (20/3), dan Bogor (21/3). Dan peristiwa ini sudah terjadi sejak dua tahun belakangan ini.

Bahkan fenomena-fenomena ini juga terjadi di setiap bangsa dan agama. Dalam Katolik, Vatikan bahkan melakukan pendidikan khusus bagi pastor pengusir setan. Mengutip LA Times, dalam 20 tahun terakhir, Italia sudah melantik 300-400 pastor khusus pengusir setan (exorcist priest).

Menurut media yang terbit di Amerika Serikat itu, kasus kesurupan menunjukkan tren meningkat. Fenomena kesurupan ini bahkan pernah booming di Amerika serikat sesaat setelah film horor The Exorcist diluncurkan tahun 1973.

Saat itu, Keuskupan Chicago kewalahan menerima order pengusiran setan, sehingga perlu menambah banyak tenaga pastur yang mempunyai keahlian khusus tentang itu. Hal ini direspons oleh Paus Jahannes Paulus II penambahan jumlah pastur exorcist.
Di Amerika Utara, setidaknya ditemukan lebih dari 100 kasus kesurupan per tahuh. Penanganannya melibatkan exorcist lintas agama, disesuaikan dengan kepercayaan orang yang kesurupan.

Di Meksiko angkanya lebih tinggi lagi. Pernah dilaporkan terdapat lija ksus kesurupan yang terjadi dalam satu hari. Lalu sebenarnya apa yang terjadi dengan korban-korban yang dinyatakan mengalami kesurupan. Benarkah mereka memang dirasuki jin atau adakah faktor lainnya di balik aksi tersebut?.

Menurut psikolog Sarlito Wirawan, fenomena yang terjadi saat ini bukanlah peristiwa kerasukan setan ataupun gejala disosiasi. Menurut dia, istilah kesurupan itu ada dua pengertian. Secara psikologis medis dan satu lagi yang penjelasannya di luar ilmu pengetahuan seperti aksi debus, kuda lumping yang makan beling, lalu tari kecak di Bali di mana orang-orangnya kesurupan. Namun, Ia mengakui, kesurupan massal belum bisa dijelaskan secara keilmuwan. Menurutnya dalam psikologi, fenomena ini tidak dapat dijelaskan dan yang pasti peristiwa ini bukan histeria massal.

Ada dua teori di balik peristiwa yang menimpa para korban kesurupan massal ini. Pertama adalah teori yang menyatakan bahwa yang menimpa korban kesurupan ini hanyalah sebuah gejala kejiwaan. Yang kedua adalah teori yang menyatakan bahwa mereka mengalami kesurupan karena ada jin yang merasuk ke dalam tubuh mereka (berdasarkan Al-Qur’an surah An-Naas).

Mari kita jabarkan lebih lanjut mengenai kedua teori ini:

1. Dari sudut Pandang Psikologi (Fenomena disasosiasi)

Menurut psikolog Dadang Hawari, fenomena yang terjadi sekarang bukanlah kesurupan massal. Ia menyebut peristiwa ini sebagai fenomena disosiasi atau sebuah reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya. Akibatnya secara tidak disadari kepribadian si korban berubah. Jadi, menurutnya ini merupakan fenomena kejiwaan dan bukannya karena kemasukan jin atau setan karena kepercayaan di masyarakat kita yang menghubung-hubungkan dengan mistik dan dianggap sebagai kesurupan massal. Jadi, karena bukan aksi kerasukan setan, maka pengobatannya pun bukan dengan cara memanggil orang ”pintar”. Obat sangat gampang, tinggal dibawa ke puskesmas, disuntik atau dikasih obat yang bisa membuat mereka tidur, nanti mereka akan sadar dan sehat lagi setelah bangun.

Peristiwa ini bisa menjadi aksi massal hanya karena faktor sugesti. Seperti kita ketika mendengar pidato, lalu ada yang tepuk tangan, tanpa disadari kita juga ikut tepuk tangan.
Reaksi disosiasi menimpa mereka yang jiwanya labil ditambah dalam kondisi yang membuatnya tertekan. Stres yang bertumpuk ditambah pemicu memungkinkan reaksi yang dikendalikan alam bawah sadar ini muncul ke permukaan.

Yang paling penting dalam menghadapi persoalan ini adalah jangan sampai semua orang panik, harus tenang, bawa korban ke puskesmas, diobati, disuruh tidur, sudah sembuh.
Kesurupan, seperti disebut dalam situs www.religion-cult.com, disebut sebagai ”kelainan sesaat” pada otak. Fenomena ini bisa terjadi pada orang dengan Tourette Syndrome, schizophrenia, epilepsi, dan kelainan psikiatrik lainya.

2. Sudut Pandang Islam (Disebabkan Jin)

Fenomena kesurupan dijelaskan Islam sejak awal. Penyebabnya, adalah gangguan jin jahat dan setan. Hanya saja, jin dan setan itu hanya bisa menguasai orang-orang yang tidak percaya atau ragu pada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al Fatwa menyebutkan tentang fenomena ini: ”Jin yang masuk dalam tubuh seseorang itu akan menyebabkan dia berbicara dengan kata yang tidak runtut, tak lagi mengenali dirinya, bahkan untuk kasus yang parah, dia bisa membunuh unta tanpa dia sendiri menyadarinya.”

Al qur’an juga menyodorkan fakta tentang kesurupan. Hal ini tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 275, ”Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila...”

Menurut Ustadz Abu Aqila, aktivis Bengkel Rohani, Dalam Al-qur’an surat al Falaq ayat 4 disebutkan soal keberadaan tukang sihir yang mengembuskan kejahatannya pada uqod atau buhul atau simpil/sarang setan. Nah, pada saat di dalam tubuh ada sarang setan, mereka bisa masuk melalui pembuluh darah karena di situlah letak simpul-simpul setan. Namun, tidak semua pembuluh darah bisa dimasuki setan, kecuali tiga yang sangat sensitif.

Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa tiga titik itu adalah pembuluh darah yang menghidupkan potensi otak kecil manusia. Di titik itu, jika kita sering berpikir berlebihan sehingga tidak kuat menahan, hal itu bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi penegangan dalam pembuluh darah kita, maka melemahkan potensi elektro kita sehingga ada arus listrik dari golongan jin masuk dan mempengaruhi sehingga terjadi kesurupan. Yang kedua, terletak di pembuluh darah yang menghidupkan potensi khayalan. Sama halnya dengan yang pertama, jika itu menegang karena kita terlalu sering mengkhayal maka setan kemungkinan besar bisa masuk. Yang ketiga di pembuluh yang terletak di bawah telinga. Ini bisa menimpa mereka yang malas, kurang kreatif, tidak punya semangat hidup, cemas, dan putus asa.

Kesimpulan

Siapa yang Berpotensi Kesurupan ?
1. Orang yang tertekan jiwanya
2. Mereka yang pemalas dan kurang kreatif
3. Tidak punya semangat hidup
4. Pencemas dan gampang putus asa
5. Ahlul Bid’ah

Bagaimana Menghindari Kesurupan ?

Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya”. (QS An Nahl: 99)

1. Selama kita beriman dan bertawakal, setan tidak akan menguasai manusia.
2. Jika imannya kuat dan bertawakal, mereka akan optimis, bersemangat, tenang, tenteram, dan tahan banting terhadap semua masalah
3. Ketenangan jiwa akan membuat seseorang tak ganpang kesurupan. Membaca Al Qur’an dan Zikir adalah salah satu langkah menengkan jiwa.

Wallahu’alam Bisshowwab..


***

0 komentar:

Posting Komentar